Senin, 26 Maret 2012

Mati Di tanganku

https://encrypted-tbn3.google.com/images?q=tbn:ANd9GcTK5b84WWXwY3LPhhQtZVJgeqS17ANsyp_--omyG-h0PlnqRU7vDw



Tiga kata menggambar malam; hitam, kelam, buram. Kurasakan luka teramat dalam, Sakit sekali. Bau nafasku terasa busuk, maka apa artinya lagi melanjut hidup?

Tidak ada yang tahu, tidak ada yang melihat dan tidak ada yang mendengar. Malam ini aku sudah bulat dan gelap. Hidupku akan berakhir, nyawaku akan terenggut. Dunia lebih kejam dari neraka. Biarlah rohku lenyap bersama sunyi. Seperti uap, seperti hembusan nafas terakhir

Aku membenci hidup. Maka apalah lagi pilihan selain mati? Percuma hidup! Aku bisa merasa bahwa sepi menggiring aku ke kematian. Persis seperti sekarang ini, di tiap langkah yang aku telan.

Di sana ada menara menjulang. Dari puncaknya aku akan melompat ke bawah, membenturkan kepalaku sampai pecah, sampai isinya berserak-serakan. Di bawah, di atas jalan raya, aku akan mati di tengah genangan darah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar