Senin, 26 Maret 2012

Kamu

 https://encrypted-tbn1.google.com/images?q=tbn:ANd9GcR-3kdo_2HxdQoCp2NqwRksNrLMwdTkZl357h6B-qNKe8_xl6Ma1nJnqzw  


Aku bahagia, ada kau dalam hidupku yang terdalam.

Bahkan aku bisa menciptakan satu dunia hanya dengan membayangkan senyum kecilmu.

Sebegitunya aku bisa sangat bahagia.

Sayangku,
Aku ingin mengajakmu jalan-jalan agar kau tidak cemberut karena bosan.
Aku ingin menghiburmu sampai gelak tawamu didengar banyak orang.
Aku ingin membahagiakanmu adalah doa yang kupanjatkan kepada Tuhan.

 https://encrypted-tbn2.google.com/images?q=tbn:ANd9GcQmNxcfRUWsFu2XcZMDJmL0Bay7d2JcwCbY-HbSGVJHq1asDPtAwg

Percakapan Kecil

1.
“hati itu berjabat tangan dengan cara begini,” katamu sambil menarik lenganku agar membalas pelukanmu.

2.
“kalau kita punya anak tiga, kamu tak keberatan kan kalau aku jadi gurita?” tanyamu sambil memelukku dari belakang.

3.
“cinta tak muat di dalam koper itu. cinta bukan tubuhmu dan koper itu bukan lenganku,” katamu ketika kita siap berangkat berlibur.

4.
“buku puisi ini bagus loh,” katamu sambil meraih remote control dari tanganku dan mematikan tivi.

5.
“satu mata lampu di ruang tengah sudah cukup. ada senyummu,” katamu sambil memperlihatkan rekening listrik.

6.
“aku mau sedikit egois. untukku saja,” katamu di depan kamar sambil memasukka kancing nomor 2 bajuku ke lubangnya.

7.
“gelas lain belum dicuci,” katamu sebagai alasan agar kita bisa minum teh dari gelas yang sama.

8.
“cinta itu ada pada hal-hal kecil,” katamu sambil memegang pemotong kuku dan menggenggam jari-jariku.

9.
“aku suka melihat kau tersenyum karena buah kesukaanmu,” katamu sepulang dari pasar membawa sekantong tomat segar.

10.
“di pagi hari bunga-bunga bangun dan menjilat embun,” katamu sambil menghapus embun yang jatuh dari kelopak mataku.

11.
“semakin kamu tak menyukai satu kata, semakin dia nyaman berumah dalam dirimu,” katamu agar aku melihat semua kata itu puitis.

12.
“siapa tahu kamu sudah mengantuk,” katamu sambil telentang dan menepuk-nepuk dadamu seolah menepuk-nepuk bantal.

Kita Saling Mencintai seperti Dua Kutipan Lucu

INI sungguh-sungguh sebuah kutipan yang lucu, bukan?

Kesimpulan adalah tempat istirahat saat lelah berdebat.

Maaf, saya sudah lupa. Kamu ingat berapa jumlah kesimpulan yang pernah kita buat lalu ulang menyusunnya agar terlihat lebih indah dari sebelumnya? Kalimat-kalimat lama itu di mana kita sembunyikan—setelah yang baru kita temukan? Di dalam puisi seorang penyair yang kekurangan metafora. Barangkali.
Kita bercinta seperti sepasang sado-masocist. Tetangga mendengar tangis-teriakan kita lalu mengumbar rasa kasihan dalam gosip-gosip. Sementara kita puas dan mandi seperti sepasang anak kecil dari kota yang baru menemukan sungai yang tidak terbuat dari bau selokan. Namun pada pagi hari,  kita berdiskusi sambil sarapan tentang bagaimana cara paling tepat menyembunyikan sisa-sisa pertempuran yang memerah di kulit kita. Ah, kita selalu begitu, malu memperlihatkan hangat cinta!
Dan setiap pagi, di meja makan, kita membangun tempat istirahat baru.

*
KUTIPAN yang satu ini tidak kalah lucunya, Sayang. Dengar!

Ayam lebih mula—pernahkah kau bayangkan betapa lucu Tuhan duduk mengerami sebutir telur?

Siapa lebih dulu mencintai: kamu atau saya? Kita sama menunjuk dada sendiri namun tak bisa menjelaskan mengapa bisa begitu. Pokoknya saya  lebih dulu! Pokoknya kamu kemudian! Rupanya memang tren berdebat anggota dewan juga sampai di kamar tidur kita. Saya benar. Kamu tidak benar. Bedanya saya mencintai kamu, kamu mencitai saya. Tetapi anggota dewan itu hanya mencintai diri mereka sendiri.
Maka begitulah: kita tidak bisa bercerai meski kita terus saja berkelahi.

Mati Di tanganku

https://encrypted-tbn3.google.com/images?q=tbn:ANd9GcTK5b84WWXwY3LPhhQtZVJgeqS17ANsyp_--omyG-h0PlnqRU7vDw



Tiga kata menggambar malam; hitam, kelam, buram. Kurasakan luka teramat dalam, Sakit sekali. Bau nafasku terasa busuk, maka apa artinya lagi melanjut hidup?

Tidak ada yang tahu, tidak ada yang melihat dan tidak ada yang mendengar. Malam ini aku sudah bulat dan gelap. Hidupku akan berakhir, nyawaku akan terenggut. Dunia lebih kejam dari neraka. Biarlah rohku lenyap bersama sunyi. Seperti uap, seperti hembusan nafas terakhir

Aku membenci hidup. Maka apalah lagi pilihan selain mati? Percuma hidup! Aku bisa merasa bahwa sepi menggiring aku ke kematian. Persis seperti sekarang ini, di tiap langkah yang aku telan.

Di sana ada menara menjulang. Dari puncaknya aku akan melompat ke bawah, membenturkan kepalaku sampai pecah, sampai isinya berserak-serakan. Di bawah, di atas jalan raya, aku akan mati di tengah genangan darah.

Rabu, 21 Maret 2012

Dalam Diam






DALAM DIAM | Kita bisa melihat sekat antara hati dan pikiran yang tak pernah bersahabat.
DALAM DIAM | Kita mampu menciptakan ruang. Hati meregang. Mampu berpikir tanpa kekang.
DALAM DIAM | Hati bicara walau lidah tak merangkai kata. Menelanjangi yang fana agar jadi nyata.
DALAM DIAM | Amarah mampu diredam. Walau kadang segala gumpalan sakit jadi dendam.
DALAM DIAM | Maaf terangkai. Menjadi satu pilihan akhir yang tak mudah dicapai.
DALAM DIAM | Kita tersadar. Kadang asa memudar. Namun harapan baru harus terus dikejar.
DALAM DIAM | Mungkin hati menyangkal, dan pikiran terlalu bebal. Tapi kenyataan tetap berputar seperti bola pejal.
DALAM DIAM | Aku mengenal denyutmu. Menjadikannya seirama dengan degupku. Melahirkan lagu rindu bernada biru.
DALAM DIAM | Aku mempelajari kita. Semoga aku cukup bijaksana.