Senin, 26 Maret 2012

Kita Saling Mencintai seperti Dua Kutipan Lucu

INI sungguh-sungguh sebuah kutipan yang lucu, bukan?

Kesimpulan adalah tempat istirahat saat lelah berdebat.

Maaf, saya sudah lupa. Kamu ingat berapa jumlah kesimpulan yang pernah kita buat lalu ulang menyusunnya agar terlihat lebih indah dari sebelumnya? Kalimat-kalimat lama itu di mana kita sembunyikan—setelah yang baru kita temukan? Di dalam puisi seorang penyair yang kekurangan metafora. Barangkali.
Kita bercinta seperti sepasang sado-masocist. Tetangga mendengar tangis-teriakan kita lalu mengumbar rasa kasihan dalam gosip-gosip. Sementara kita puas dan mandi seperti sepasang anak kecil dari kota yang baru menemukan sungai yang tidak terbuat dari bau selokan. Namun pada pagi hari,  kita berdiskusi sambil sarapan tentang bagaimana cara paling tepat menyembunyikan sisa-sisa pertempuran yang memerah di kulit kita. Ah, kita selalu begitu, malu memperlihatkan hangat cinta!
Dan setiap pagi, di meja makan, kita membangun tempat istirahat baru.

*
KUTIPAN yang satu ini tidak kalah lucunya, Sayang. Dengar!

Ayam lebih mula—pernahkah kau bayangkan betapa lucu Tuhan duduk mengerami sebutir telur?

Siapa lebih dulu mencintai: kamu atau saya? Kita sama menunjuk dada sendiri namun tak bisa menjelaskan mengapa bisa begitu. Pokoknya saya  lebih dulu! Pokoknya kamu kemudian! Rupanya memang tren berdebat anggota dewan juga sampai di kamar tidur kita. Saya benar. Kamu tidak benar. Bedanya saya mencintai kamu, kamu mencitai saya. Tetapi anggota dewan itu hanya mencintai diri mereka sendiri.
Maka begitulah: kita tidak bisa bercerai meski kita terus saja berkelahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar